Arah

Sumber: Pinterest


"Kalau kecewa sama manusia, marahnya jangan ke Allah Za!"

    ***

    Pulang sekolah selalu menjadi momen yang dinanti. Bukan karena ingin segera sampai di rumah, tapi pergi ke tempat lain yang dirasa lebih aman dan menyenangkan. Tidak ada yang menghakimi, semua seolah mengiyakan apa saja yang ada di pikiran Za dan bagaimanapun perilakunya di luar sekolah. Temannya bukan tidak mau menasihati, mereka hanya tidak mau Za pergi lebih jauh. Mencari nyaman yang semu. 

"Gimana kalau nanti ngemall aja?" tanya Za kepada Risa.

"Bosan nggak sih? Ke rumahku aja, Umi bikin cemilan enak."

"Setujuuuu", seru dua teman lainnya, Nur dan Alisa. 

Mereka memesan taksi online. Belum masuk ke mobil dengan sempurna, Za buru-buru melepas jilbab.

"Arghhhhh gerah banget sumpah nggak jelas nih jilbab" gerutunya.

"Tutup dulu pintunya please, nanti dilihat guru loh!" Risa memperingatkan.

    Pintu sudah tertutup dengan sempurna. Mereka melaju ke arah rumah Risa. Perjalanan penuh gelak tawa khas remaja. Sopir taksi online hanya bisa geleng-geleng kepala.

***

    Suasana hangat rumah Risa selalu menyambut mereka. Tidak dipungkiri, dalam hati Za dia sering kali membanding-bandingkan orang tua Risa dengan orang tuanya. Bagi Za, orang tua Risa sempurna tanpa cela. Menyenangkan, hangat dan selalu ada. Sementara rumahnya, sepi dan berantakan. Za merasa tidak beruntung dalam hal apa pun.

"Nah ini umi udah bikin camilan, soalnya semalam Risa cerita katanya kalian mau main ke rumah, dihabiskan ya."

"Siap, Mi. Aman udah pasti habis, kan ada Za," Za mengambil risol dan memasukkannya ke mulut sampai penuh. 

Za masih sibuk mengunyah risol sambil memandang layar ponsel. Sesekali menggerutu kecil.

"Apaan deh ngomel melulu. Cepet tua!" tegur Risa.

    Za tidak merespon, kembali sibuk dengan ponselnya. Sementara itu Risa, Nur dan Alisa berbincang tentang sekolah lanjutan yang mereka incar. Ketiganya membidik sekolah Negeri yang berbeda. Dua diantaranya berencana pindah ke luar kota. Nur dan Alisa memang sering kali berpindah dari kota satu ke kota lain karena pekerjaan orang tuanya.

"Nanti kalau aku sama Alisa pindah tetap komunikasi ya. Awas aja kalau jadi sombong,"

"Eh kamu capek nggak sih pindah-pindah terus?" tanya Risa.

"Capek lah. Kirain tuh nggak bakalan pindah lagi karena udah 3 tahun kan. Padahal aku berharap selamanya bisa sama kalian ih. Seru."

"Za, kamu jadinya mau lanjut sekolah di mana?" Alisa menyenderkan kepala ke bahu Za, sedikit mengintip layar ponsel.

"Belum tahu, nggak sekolah kali." Jawabnya sambil tertawa. Tidak ada yang lucu. Za hanya sedang menyembunyikan sesuatu, temannya sudah memahami itu.

    Tidak ingin membuat suasana menjadi canggung, Risa mengajak ketiga temannya untuk menonton film horor terbaru. Sejenak, Za teralihkan sebelum harus benar-benar pulang ke rumah yang sama sekali tidak dia inginkan.

***

    Za membuka pagar rumahnya, lampu teras masih menyala sejak semalam. Dia lupa tidak memadamkannya. Beberapa paket menumpuk di kursi teras. Semua tertuju untuk kakaknya, Trian. 

"Cowok hobi banget belanja online," gerutunya sambil membawa masuk tumpukan paket itu. Seperti biasanya rumah sepi, piring bekas sarapan tadi pagi masih tergeletak di wastafel. Di meja jus buah sisa setengah gelas, kulit roti tawar gosong berantakan, dan pecahan piring masih berada di tempat terakhir mendarat, dekat kursi yang diduduki Za pagi tadi. Tidak ada yang berubah, semua masih sama persis seperti sebelum dia berangkat sekolah. Bedanya, sekarang Za sendirian. 

    Za menyalakan lampu dengan lesu dan menahan takut. Ia sebenarnya tidak nyaman dengan gelap dan sepi. Tapi begitulah kenyataan yang dia hadapi. Semuanya berubah sejak Ayahnya meninggal. Dunianya tidak lagi berwarna ceria. Hanya ada hitam dan putih, terutama di mata Ibunya. 

***

    Suara sepeda motor kak Trian terdengar, Za bangkit dari tempat tidur, mengintip di jendela, lega. Setidaknya dia tidak lagi sendirian. Walaupun keberadaan Trian tidak juga memecah suasana hening, mereka hampir tidak pernah saling bicara dan mendengarkan satu sama lain. Sudah hampir tengah malam, belum ada tanda-tanda Ibunya pulang. Di pikiran Za kembali terlintas kejadian tadi pagi di meja makan saat Ibu marah dan membanting piring, berlalu pergi. 

    Hubungan mereka memang kurang baik sejak Ayah meninggal, tapi Za selalu menunggu Ibunya pulang sekali pun ia dalam keadaan marah. Playlist lagu kesukaan Za sudah habis diputar, semua media sosial sudah selesai dia jelajahi, bosan. Badan mungilnya tenggelam di balik selimut tebal dan suhu dingin kamar. Suara jam dinding seperti sedang berusaha agar Za tetap terjaga. Helaan napasnya tidak bisa berbohong, Za mulai gelisah. 

"Besok hari libur, nggak apa-apa kalau nggak tidur" bisiknya lirih kepada diri sendiri.

***

"Za lanjut sekolah di pesantren," Ibunya menyodorkan tab. Di layar menampilkan video profil sebuah pondok pesantren.

"Ini usaha terakhir Ibu buat jagain Za, seperti pesan Ayah!"

    Za menonton video sampai selesai namun pikirannya tertuju entah ke mana. Dia hanya sedang menghargai Ibunya.  

"Semalam ibu pulang jam berapa?" Za meletakkan tab di meja, berjalan ke sudut ruangan tempat di mana ia biasa menyimpan bola basket.

"Sebelum tengah malam juga udah pulang."

    Za tahu Ibunya berbohong karena Za terjaga sampai pagi, Ibunya baru pulang pukul empat. 

***

    Lapangan basket di tengah komplek perumahan itu terlihat usang di mana-mana. Hanya satu ring tersisa, cat lapangan memudar bahkan hampir tidak dikenali warna aslinya. Ketukan bola basket mengikuti irama degup jantung Za, ia sedang marah. Berkali-kali Za melemparkan bola tanpa arah, lebih tepatnya membanting. Tanpa pikir panjang, Za melepaskan jilbab dan jaketnya. Sekarang rambut pirangnya terlihat mengkilap di bawah sinar matahari pagi. Za merasa semua yang terjadi di hidupnya tidak adil. Allah tidak pernah memberi apa yang Za inginkan. 

"Astaghfirullah Za!" Suara Trian terdengar setengah berteriak. Dia berlari menghampiri Za, buru-buru memakaikan jaket dan jilbab.

"Kamu itu calon santri! Apa-apaan buka jilbab di sini Za? Kalau Ibu tahu kamu bakalan..."

"Bakalan apa? Masuk neraka? Lagian ngapain aku suruh masuk pesantren tapi kakak engga? Nggak adil. Pilih kasih. Emang cuma Ayah yang ngertiin Za!"

"Kalau kamu kecewa sama manusia, marahnya jangan ke Allah Za!"

"Terus ke siapa? Ke Ibu yang nggak pernah dengerin maunya Za? Ke Kak Trian yang nggak pernah belain Za? Iya?"

***

    Keputusan Ibu sudah bulat untuk mendaftarkan Za sekolah di pesantren. Hari-hari menjelang kelulusan terasa tidak istimewa. Bahkan Za berharap dia tidak lulus. Ia menutup diri dari teman dekatnya. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh mereka, hanya bisa berharap Za bisa berdamai dengan keputusan Ibunya.

"Oke Za nurut sekolah di pesantren. Tapi Za punya syarat!"

"Apa?" Ibunya berbinar, ia bahagia karena akhirnya putri satu-satu itu luluh.

"Jangan pernah nengokin Za ke pesantren selama 3 tahun. Jangan beri kabar apapun lewat pengurus pesantren. Apapun! Za mau sendirian selama 3 tahun, tanpa Ibu, tanpa Kak Trian. Sekali saja Ibu atau Kak Trian melanggar, Za benar-benar tidak mau pulang ke rumah."

    Ibu dan Trian diam saling pandang, menarik napas berat. Bahu Ibu mulai merunduk lesu, pelan bersandar di kursi. Mata yang berbinar kini berubah sendu. Trian memegang tangan Ibu. Matanya terus memastikan bahwa wanita di sampingnya baik-baik saja. 

***

    Za merasa sangat asing di tempat baru. Dia yang biasanya ceria di sekolah, kali ini ingin menjadi pribadi yang baru, pendiam, menyendiri, dan tidak banyak bicara. Tahun pertama begitu berat bagi Za, tapi dia bertahan sesuai janjinya. Setiap kali jadwal kunjungan santri tiba, Za memilih berdiam diri di kamar, mengaji pelan menahan tangis yang bahkan air matanya saja seolah sudah kering. Tahun berikutnya dia semakin kuat tapi keras. Ia paham betul bahwa hatinya kini membatu, tapi dia tetap pada arah yang benar. Keterpaksaan itu lambat laun membuatnya semakin dekat dengan Rabb-Nya. Sesekali Za sangat yakin bahwa ia bisa melepaskan satu per satu luka di hidupnya. Ia mulai memaafkan banyak hal yang sudah terjadi. Kecewa yang selama ini entah tertuju pada siapa, pelan namun pasti, memudar. 

***

    Za tidak bisa tidur pulas di kereta. Meskipun malu, Za akhirnya mengaku kepada diri sendiri bahwa ia rindu Ibu dan Kak Trian. Senyum tipisnya memantul di kaca jendela kereta. Laju kereta terasa lambat, Za mulai gelisah mengatur posisi duduk. Tangannya menggengam ponsel yang selama 3 tahun ia titipakan di pengurus pondok pesantren. Perlahan ia memencet tombol on. Tidak ada yang bisa dihubungi karena kartunya sudah lewat masa tenggang. 

    Peron stasiun penuh lalang manusia. Ada yang datang melepas rindu di kota ini, ada yang datang memang untuk mengadu nasib. Za mempercepat langkah kaki agar segera keluar dari stasiun, memesan ojek, pulang. 

***

"Assalamu'alaikum, Bu, Kak Trian!" ia tidak sabar menunggu pintu dibuka.

    Sepi, tidak ada jawaban. Tapi ini hari Minggu, biasanya di rumah ada orang. Za yang gelisah memutuskan untuk menunggu di gazebo halaman rumahnya. Satu dua jam, Kak Trian pulang. Ia memeluk adik satu-satunya dengan erat. Trian senang sekali, pelukannya disambut dengan hangat oleh Za yang selama ini dingin. Trian seperti tidak percaya bahwa hari yang ditunggu sudah tiba. Trian tidak kalah sepinya dari Za.

"Kenapa nggak kabarin kakak?" 

"Nomornya lewat masa tenggang, Kak. Ibu mana?"

Mata Za terus mencari, berharap Ibunya masih di dalam mobil membereskan barang belanjaan.

"Ada kok, Ibu ada. Yuk masuk dulu." Trian bisa melihat bahwa adiknya banyak berubah. Dulu, dia sangat ketus jika diajak berbicara. 

"Ada dimana? Di rumah? Dari tadi Za pencet bel nggak ada yang nyaut, Kak."

"Masuk dulu, istirahat." Trian memastikan semua baik dan tidak ada yang perlu Za khawatirkan.

***

"Ibu lagi ada urusan dulu Za."

"Tadi katanya ada."

"Iya ada. Tapi kan kakak nggak bilang ada di rumah,"

Za menganggung-angguk. 

"Nanti sore ikut kakak yuk! Kamu lama loh nggak nengokin makam Ayah. Sudah 3 tahun, ya kan?"

"Boleh. Za juga kangen"

***

    Trian benar, dia mengajak Za ke makam Ayah. Tapi sekarang ada yang lain di samping makam yang nisannya sudah usang itu. Mata Za terasa sangat panas, dia menahan air mata agar tidak meleleh di sudut. Ke mana pun Za memandang, asal bukan ke makam di samping Ayahnya. Tubuh Za rasanya ingin ambruk. Za kembali mengingat kalimat terakhirnya saat Ibu meminta dia untuk sekolah di pesantren. Ibu dan Kak Trian tidak ingar janji. 

    Za berandai mereka tidak pernah menepati janji itu. Biar saja Za marah, biar saja Za tidak lagi pulang ke rumah. Asalkan Ibu tetap hidup. Setidaknya jika Ibu masih ada, ia akan berkali-kali menelfon memintaa maaf karena sudah ingkar janji dan membujuk Za untuk pulang. Jika yang terjadi demikian, hati Za tentu akan luluh. Karena sejak tiga tahun di pesantren memang Za sudah mulai memaafkan segalanya, termasuk rasa kehilangan yang sudah lama tinggal di dalam hatinya. Za, kehilangan arah lagi.



0 Comments